Tulisan di Kisah Asrama Mahasiswa UGM "Cemara Lima" Yogyakarta mengingatkan kisah-kisah ketika menjadi warga asrama tersebut selama kurang lebih 8 tahun (ya, 8 tahun!). Andai saja tidak direnovasi karena kerusakan yang sudah sedemikian parah dan penghuninya sementara diungsikan di asrama Dharmaputra yang juga milik UGM, barangkali kelulusan ketika itu akan lebih lama tertunda. Karena asrama Dharmaputra jauh dari kampus sementara ketika itu diriku masih menjadi pedestrian maka memilih mencari kos yang tidak jauh dari asrama Cemara Lima di kampung Karanggayam.
Sebelum bercerita bagaimana konstruksi asrama tersebut sehingga tahan gempa tetapi tidak tahan bocor, ada hal yang lebih penting bahwa kehidupan di asrama dengan 96 kamar membuat banyak pelajaran bagaimana hidup di asrama susun. Walau wujudnya sebelum direnovasi sungguh memprihatinkan tetapi mantan penghuninya sekarang bisa disebutkan antara lain: Andi Malarangen (Jubir Presiden SBY), Rizal Malarangeng, M. Syahbudin Latief (P2K UGM), Dudung Abdul Muslim (Suara Merdeka), Jose Rizal (Republika), R, Toto Sugiharto, Abdul Hakim dan group cah Pekalongan dari angkatan 80-an, yang lain bisa dilihat dari daftar tunggakan asrama yang belum lunas sampai sekarang (he.. he.. he..). Sedang angkatan 90-an yang sekarang sering muncul di tv yaitu Fahmi Badoh yang anggota pekerja ICW.
Ketika menjadi warga asrama pertama kali kesan yang terekam yaitu kumuh dan pengap. Gaya penghuninya memang gaya mahasiswa banget, semau gue walau bukan berarti tanpa aturan. Seingatku banyak kesepakatan-kesepakatan yang menjadi aturan warga asrama. Harap maklum saja, ketika Koperasi Mahasiswa (Kopma) melepas hak pengelolaannya karena sudah tidak bisa membereskan tunggakan-tunggakan uang sewa penghuni asrama maka secara sepakat warga mengelola sendiri asrama dan dalam musyawarah di Gedung P3PK UGM sampai dini hari nama asrama menjadi Cemara Lima. Nama itu diambil dari jumlah pohon cemara laut yang tumbuh di depan asrama berjumlah 5 batang (menurut info adikku yang sekarang kos di dekat asrama, pohon cemara tinggal 3 saja dan sedang ditanam lagi 2 batang karena nama asrama masih Cemara Lima).
Uang sewa pertama yang kubayar yaitu Rp 7.000,00/bulan (awal 90-an) dan naik sesuai kebutuhan tagihan air dan listrik. Naik menjadi Rp 10.000,00/bulan dan sekarang konon sekitar Rp 100.000,00/bulan. Memang sangat murah dibanding kos-kosan disekitarnya. Kamar kos di kampung untuk ukuran 2,5 X 2,5 meter setahun Rp 600.000,00 – Rp 800.000,00 yang paling murah. Itu pun keadaan kosong sementara di asrama semua sudah tersedia, tempat tidur, kasur, meja belajar, lemari pakaian, meja makan,1 kamar mandi untuk setiap 3 kamar dan ada ruang tamu dengan meja dan kursi tamu. Murah sekali, sehingga banyak penghuninya lulusnya lebih dari 6 tahun bahkan ada yang 14 tahun!
Kemewahan untuk ukuran mahasiswa dari kampung ketika tinggal di asrama tersebut menyebabkan betah. Walau ada kekurangan seperti bocornya kamar mandi menjadi hal yang diabaikan. Untuk urusan kebocoran kamar mandi ini hanya dialamai yang menguni lantai 1 – 3 karena mendapat bocoran dari lantai atasnya, sedang yang berada di lantai 4 cukup aman dari kebocoran.
Pengalaman lain ketika di asrama yaitu ketika gempa dari Gunung Merapi. Kebetulan selama di asrama kamarku di lantai 4 gedung Selatan pojok Selatan, sehingga sering merasakan gempa. Karena di lantai paling atas gerakan gempa terasa lebih kuat dibandingkan di lantai bawah. Bahkan pernah tempat tidur bergoyang cukup keras, tetapi akhirnya menjadi biasa karena sudah terbukti aman.
Konstruksi asrama yaitu rangka dari besi-besi baja besar, entah apa namanya. Konon tembok-temboknya dari panel-panel cor. Atap asbes dengan rangka besi, tangga yang mengubungkan setiap lantai dari plat besi. Lantai dari cor beton bertulang. Sebagai gambaran tambahan yaitu asrama terdiri dari 2 gedung, masing-masing gedung memiliki 2 blok. Setiap blok terdiri dari 4 lantai yang setiap lantai terdiri dari 2 flat yang dipisahkan dengan tangga penghubung antar lantai. Setiap flat terdiri dari 3 kamar, 1 kamar mandi, ruang cuci piring, ruang makan dan ruang tamu.
Konstruksi asrama susun dengan rangka baja teruji tahan gempa dan pada gempa tektonik di Yogyakarta tahun 2006 juga tidak mengalami kerusakan berarti. Pilihan konstruksi tersebut selain tahan gempa juga cukup ringan karena bahan panel tembok luar dari bahan yang ringan tetapi cukup kuat. Kekurangan dari bahan konstruksi tersebut yaitu tidak tahan air, sehingga akibat kebocoran dari pembuangan air kamar mandi menyebabkan bebrapa rangka baja tersebut berkarat.
Berdasar pada tulisan Kisah Asrama Mahasiswa UGM "Cemara Lima" Yogyakarta aspek teknis bangunan Cemara Lima memang berbeda. Itu sebabnya warga kampus menjulukinya sebagai bangunan eksperimen. Bagian dinding dan lantai bangunannya tidak menggunakan batu bata melainkan bermis. Yaitu, menggunakan campuran PC dengan batuan pumice, dengan perbandingan 1:9, dan menggunakan sistem precast. Keuntungan bermis adalah ringan. Tapi ia tidak kedap air seperti beton.
Hal ini menyebabkan pengecoran pada dinding dengan lantai maupun kolom menjadi tidak sempurna. Masing-masing seperti berdiri sendiri-sendiri. Inilah yang menjadi sumber kebocoran di kamar mandi maupun area dapur. Sedangkan bagian lantai yang dilapis seng, akhirnya juga karatan. Perbaikan yang dilakukan dengan cor beton biasa. Hubungan kolom dengan lantai dibuat seperti tanggul, tetapi ini pun masih belum bisa dikatakan sempurna. Kebocoran tetap masih ada.
Semula pembangunan asrama susun tersebut memang untuk percontohan tetapi menjadi satu-satunya dan tetap menjadi contoh. Ketika UGM membangun asrama mahasiswa Magister Manajemen konstruksinya lebih mahal dan tentunya bangunannya juga mentereng. UGM sebagai kampus merakyat sekarang pun sudah hilang menjadi kampus borju seiring perubahan menjadi BHMN.
Silahkan studi banding ke asrama Cemara Lima UGM bagi yang ingin membangun asrama susun dengan konstruksi tahan gempa. Mumpung asrama tersebut belum dirobohkan karena kabarnya akan beralih fungsi. Semoga kabar itu tidak benar.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar